layzabye.blogspot.com

Selasa, 13 Januari 2015

makalah body mekanik



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mekanika tubuh meliputi pengetahuan tentang bagaimana dan mengapa kelompok otot tertentu digunakan untuk menghasilkan dan mempertahankan gerakan secara aman. Dalam menggunakan mekanika tubuh yang tepat perawat perlu mengerti pengetahuan tentang pergerakan, termasuk bagaimana mengoordinasikan gerakan tubuh yang meliputi fungsi integrasi dari system skeletal, otot skelet, dan system saraf. Selain itu, ada kelompok otot tertentu yang terutama digunakan unutk pergerakan dan kelompok otot lain membentuk postur/bentuk tubuh.
Manusia dapat bergerak berpindah tempat sesuai keinginannya. Gerak bebas tersebut terjadi sebagia hasil kerja sama antara dua sistem organ, yaitu kerangka atau rangka dan otot. Rangka yang tersusun atas tulang-tulang dapat bergerak karena di gerakkan otot. Jadi sebenarnya rangka tidak mempunyai kemampuan untuk menggerakkan dirinya. Oleh sebab itu, rangka disebut alat gerak pasif.
Otot mempunyai kemampuan untuk berkontraksi atau memendek dan berlelaksasi atau mengendur. Jika otot memendek akan dihasilkan tenaga dan terjadilah gerakan organ-organ yang dilekati atau pun organ disekitarnya kearah tertentu. Bila otot mengendur maka organ-organ akan bergerak kearah yang berlawanan. Berdasarkan ini maka otot disebut alat gerak aktif.

B. Rumusan Masalah
1.        Apa Konsep dasar Body Mekanik?
2.        Bagaimana Asuhan keperawatan Body mekanik?
3.        Apa Konsep dasar Body Alighment?
4.        Bagaimana asuhan keperawatan Body Alighment?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Body Mekanik
1.        Pengertian Body Mekanik
Body mekanik merupakan penggunaan tubuh yang efisien, terkoordinir dan aman            untuk menghasilkan pergerakan dan mempertahankan keseimbangan selama aktivitas.
Body Mekanik meliputi 3 elemen dasar yaitu :
Ø  Body Aligement (Postur Tubuh)
Susunan geometrik bagian-bagian tubuh dalam hubungannya dengan bagian tubuh yang lain.
Ø   Balance / Keseimbangan
Keseimbangan tergantung pada interaksi antara pusat gravity, line gravity dan base of support.
Ø  Koordinated Body Movement (Gerakan tubuh yang terkoordinir)
Dimana body mekanik berinteraksi dalam fungsi muskuloskeletal dan sistem syaraf.

2.        Prinsip Body mekanik
1         Gravitasi
Merupakan prinsip pertama yang harus diperhatikan dalam melakukann mekanika tubuh dengan benar, yaitu memandang gravitasi sebagai sumbu dalam pergerakan tubuh. Terdapat tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam gravitasi:
a.         Pusat gravitasi ( center of gravitasi ), titik yang berada dipertengahan tubuh
b.        Garis gravitasi ( Line Of gravitasi ), merupakan garis imaginer vertikal melalui pusat gravitasi.
c.         Dasar tumpuan ( base of suport ), merupakan dasar tempat seseorang dalam keadaan istirahat untuk menopang atau menahan tubuh
2         Keseimbangan
Keseimbangan dalam penggunaan mekanika tubuh dicapai dengan cara mempertahankan posisi garis gravitasi diantara pusat gravitasi dan dasar tumpuan.
3         Berat
Dalam menggunakan mekanika tubuh yang sangat dipehatikan adalah berat atau bobot benda yang akan diangkat karena berat benda akan mempengaruhi mekanika tubuh.

3.        Faktor yang mempengaruhi Body Mekanik
v  Status kesehatan
Perubahan status kesehatan dapat mempengaruhi sistem muskuloskeletal dan sistem saraf berupa penurunan koordinasi. Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh penyakit, berkurangnya kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari – hari dan lain – lainnya.
Kondisi kesehatan seseorang akan berpengaruh terhadap keseimbangan tubuh sehingga aktivitasnya menjadi terganggu.
v  Nutrisi
   Pemenuhan kebutuhan tubuh akan nutrisi sangat penting karena mempengaruhi produksi energi yang digunakan untuk mobilisasi.
v  Emosi
Kondisi psikologis seseorang dapat menurunkan kemampuan mekanika tubuh dan ambulansi yang baik, seseorang yang mengalami perasaan tidak aman, tidak bersemangat, dan harga diri rendah. Akan mudah mengalami perubahan dalam mekanika tubuh dan ambulasi.
v  Situasi dan kebiasaan
Situasi dan kebiasaan yang dilakukan seseoarang misalnya, sering mengankat benda-benda berat, akan menyebabkan perubahan mekanika tubuh dan ambulasi.
v  Gaya hidup
Gaya hidup, perubahan pola hidup seseorang dapat menyebabkan stress dan kemungkinan besar akan menimbulkan kecerobohan dalam beraktivitas, sehingga dapat menganggu koordinasi antara sistem muskulusletal dan neurologi, yang akhirnya akan mengakibatkan perubahan mekanika tubuh.
v  Pengetahuan
Pengetahuan yang baik terhadap penggunaan mekanika tubuh akan mendorong seseorang untuk mempergunakannya dengan benar, sehingga mengurangi tenaga yang dikeluarkan. Sebaliknya, pengetahuan yang kurang memadai dalam penggunaan mekanika tubuh akan menjadikan seseorang beresiko mengalami gangguan koordinasi sistem neurologi dan muskulusletal.

4.        Pergerakan Dasar Body Mekanik
1         Gerakan ( ambulating ).
Gerakan yang benar dapat membantu keseimbangan tubuh. Sebagai contoh, keseimbangan pada saat orang berdiri dan saat orang berjalan kaki berbeda.  Orang berdiri akan lebih mudah stabil dibanding dengan orang yang berjalan, karena pada posisi berjalan terjadi perpindahan dasar tumpuan dari sisi satu ke sisi yang lain dan pusat gravitasi selalu berubah pada posisi kaki. Pada saat berjalan terdapat dua fase yaitu fase menahan berat dan fase mengayun, yang akan menghasilkan gerakan halus dan berirama.
2         Menahan ( squating ).
Dalam melakukan pergantian, posisi menahan selalu berubah. Sebagai contoh, posisi orang yang duduk akan berbeda dengan orang yang jongkok dan tentunya juga berbeda dengan posisi membungkuk. Gravitasi adalah hal yang perlu diperhatikan untuk memberikan posisi yang tepat dalam menahan. Dalam menahan sangat diperlukan dasar tumpuan yang tepat untuk mencegah kelainan tubuh dan memudahkan gerakan yang akan dilakukan.
3         Menarik ( pulling ).
Menarik dengan benar akan memudahkan untuk memindahkan benda. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menarik benda, di antaranya ketinggian, letak benda ( sebaiknya berada di depan orang yang akan menarik ), posisi kaki dan tubuh dalam menarik ( seperti condong kedepan dari panggul ), sodorkan telapak tangan dan lengan atas di bawah pusat gravitasi pasien, lengan atas dan siku diletakkan pada permukaan tempat tidur, pinggul, lutut dan pergelangan kaki ditekuk lalu lakukan penarikan.
4         Mengangkat ( lifting ).
Mengangkat merupakan cara pergerakan daya tarik. Gunakan otot – otot besar dari tumit, paha bagian atas, kaki bagian bawah, perut dan pinggul untuk mengurangi rasa sakit pada daerah tubuh bagian belakang.
5         Memutar ( pivoting ).
Memutar merupakan gerakan untuk memutar anggota tubuh dan bertumpu pada tulang belakang. Gerakan memutar yang baik memperhatikan ketiga unsur gravitasi dalam pergerakan agar tidak memberi pengaruh buruk pada postur tubuh.

5.        Dampak Mekanik Tubuh Yang salah

a)         Terjadi ketegangan sehingga memudahkan timbulnya kelelahan dan gangguan dalam sistem muskulusletal.
b)         Resiko terjadinya kecelakaan pada sistem muskulusletal. Seseorang  salah dalam berjongkok atau berdiri, maka akan memudahkan terjadinya gangguan dalam struktur muskulusletal,  misalnya kelainan pada tulang vertebrata.

6.        Asuhan Keperawatan Aktivitas Tubuh
1.        Pengkajian
Pengkajian keperawatan pada masalah mekanika tubuh dan ambulasi, antara lain menilai adanya kemampuan dan keterbatasan dalam bergerak dengan cara bangkit dari posisi berbaring ke posisi duduk, kemudian bangkit dari kursi ke posisi berdiri, atau perubahan posisi. Selanjutnya menilai adanya kelainan dalam mekanika tubuh pada saat duduk, berakivitas, atau saat pasien menglami pergerakan serta pengkajian terhadap status ambulasi. Kemudian, menilai gaya berjalan untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan dengan cara mengamati apakah gaya berjalan pasien ( mantap atau tegak lurus ), ayunan lengan atas ( pantas atau tidak ), kaki ikut siap pada saat ayunan atau tidak, langkah jatuh jauh dari garis gravitasi atau tidak, serta berjalan apakah diawali dan diakhiri dengan mudah atau tidak..
a.         Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik berfokus pada aktivitas dan olahraga yang menonjolkan kesejajaran tubuh, cara berjalan, penampilan dan pergerakan sendi, kemampuan dan keterbatasan gerak, kekuatan dan massa otot, serta toleransi aktivitas.

b.        Kesejajaran  tubuh
Pengkajian kesejajaran tubuh dapat dilakukan pada klien yang berdiri, duduk, dan berbaring. Pengkajian ini mempunyai tujuan sebagai berikut:
1.        .Menentukan perubahan fisiologis normal pada kesejajaran tubuh akibat pertumbuhan dan perkembangan.
2.         Mengdentifikasi penyimpanan kesejajaran tubuh yang disebabkan fostur yang buruk.
3.         Memberi kesempatan klien untuk mengopservasi posturnya.
4.        Mengidentifikasi kebutuhan belajar klien untuk mempertahankan kejajaran tubuh yang benar.
5.        Mengidentifikasi trauma, kerusakan otot, atau disfungsi saraf
6.        Memperoleh informasi mengenai factor-faktor lain yang mempengaruhi kesejajaran yang buruk, seperti kelelahan, malnutrisi, dan masalah psikologis.

Berdiri. Perawat harus memfokuskan pengkajian kesejajaran tubuh pada klien yang berdiri sesuai hal – hal berikut :

1)        Kepala tegak dan midline
2)        Ketika dilihat dari arah posterior, bahu dan pinggul lurus dan sejajar.
3)        Ketika dilihat dari arah posterior, tulang belakang lurus
4)        Ketika klien dilihat dari arah lateral, Kepala tegak dan garis tulang belakang digaris dalam pola S terbaik. Tulang belakang servikal pada arah anterior adalah cembung, tulang belakang lumbal pada arah anterior adalah cembung.
5)        Ketika dilihat dari arah lateral, perut berlipat ke bagian dalam dengan nyaman dan lutut pergelangan kaki agak melengkung. Orang tampak nyaman dan tidak sadar akan lutut dan pergelangan kaki yang fleksi.
6)        Lengan klien nyaman di samping.
7)        Kaki di tempatkan sedikit berjauhan untuk mendapatkan dasar penopang, dan jari – jari kaki menghadap ke depan.
8)        Ketika klien dilihat dari arah anterior, pusat gravitasi berada di tengah tubuh, dan garis gravitasi mulai dari tengah kepala bagian depan sampai titik tengah antara kedua kaki. Bagian lateral garis gravitasi dimulai secara vertikal dari tengah tengkorak sampai sepertiga kaki bagian posterior.

Duduk. Perawat mengkaji kesejajaran pada klien yang duduk dengan mengobservasi hal – hal sebagai berikut :

a)        Kepala tegak, leher dan tulang belakang berada dalam kesejajaran yang lurus.
b)        Berat badan terbagi rata pada bokong dan paha.
c)        Paha sejajar dan berada pada potongan horisontal.
d)       Kedua kaki  di topang di lantai. Pada klien pendek tinggi, alat bantu kaki digunakan dan pergelangan kaki menjadi fleksi dengan nyaman.
e)        Jarak 2 – 4 cm dipertahankan antara sudut tempat duduk dan ruang popliteal pada permukaan lutut bagian posterior. Jarak ini menjamin tidak ada tekanan pada arteri popliteal atau saraf untuk menurunkan sirkulasi atau mengganggu fungsi saraf.
f)         Lengan bawah klien ditopang pada penganan tangan, di pangkuan, atau di atas meja depan kursi.
Berbaring. Pada orang sadar mempunyai kontrol otot volunter dan persepsi normal terhadap tekanan. Sehingga merekabiasa merasakan posisi nyaman ketika berbaring. Karena rentang gerak, sensasi dan sirkulasi pada orang sadar berada dalam batas normal, mereka mengubah posisi ketika mereka merasakan ketengangan otot dan penurunan sirkulasi.

Pengkajian kesejajaran tubuh ketika berbaring membutuhkan posisi lateral pada klien dengan menggunakan satu bantal, dan semua penopangnya diangkat dari tempat tidur. Tubuh harus ditopang oleh matras yang adekuat. Tulang belakang harus berada dalam kesejajaran lurus tanpa ada lengkungan yang terlihat. Pengkajian ini memberi data dasar mengenai kesejajaran tubuh klien.

c.         Cara berjalan
Pengkajian cara berjalan dilakukan untuk mengidentifikasi mobilitas klien dan risiko cedera akibat jatuh. Hal ini dilakukan dengan meminta klien berjalan sejauh kurang lebih 10 kaki di dalam ruangan, kemudian amati hal-hal berikut :
1.        Kepala tegak, pandangan lurus, dan tulang belakang lurus
2.        Tumit menyentuh tanah lebih dahulu daripada jari kak i
3.        Kaki dorsofleksi pada fase ayunan
4.        Lengan mengayun ke depan bersamaan dengan ayunan kaki di sisi yang berlawanan
5.        Gaya berjalan halus, terkoordinasi, dan berirama; ayunan tubuh dari sisi ke sisi minimal dan tubuh ke depan, dan gerakan dimulai dan diakhiri dengan santai.
6.        Kecepatan berjalan (normalnya 70-100 langkah per menit)


d.        Penampilan dan prgerakan sendi
Pemeriksaan ini meliputi inspeksi, palpasi, serta pengkajian rentang gerak aktif atau rentang gerak pasif. Hal-hal yang perlu dikaji antara lain :
1.    Adanya kemerahan atau pembengkakan sendi
2.    Adanya deformitas
3.    Perkembangan otot yang terkait dengan masing-masing sendi
4.    Adanya nyeri tekan
5.    Krepitasi
6.    Peningkatan temperatur di sekitar sendi
7.    Derajat gerak sendi

e.         Kemampuan dan Keteerbatasan Gerak
Pengkajian ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang adanya indikasi rintangan dan keterbatasan pada pergerakan klien dan kebutuhan untuk memperoleh bantuan. Hal-hal yang perlu dikaji antara lain:
1.        Bagaimana penyakit klien mempengaruhi kemampuan klien untuk bergerak.
2.        Adanya hambatan dalam bergerak (misalnya terpasang selang infuys atau gips yang berat)
3.        Kewaspadaan mental dan kemampuan klien untuk mengikuti petunjuk
4.        Keseimbangan dan koordinasi klien.
5.        Adanya hipotensi ortostatik sebelum berpindah tempat
6.        Derajat kenyamanan klien
7.        Penglihatan

f.         Kekuatan masa otot
Sebelum membantu klien mengubah posisi atau berpindah tempat, perawat harus mengkaji kekuatan dan kemampuan klien untuk bergerak. Langkah ini di ambil utnuk menurunkan risiko tegang otot dan cedera tubuh, baik bagi klien maupun perawat.

g.        Toleransi aktivitas
Toleransi aktivitas adalah jenis dan jumlah latihan atau kerja yang dapat dilakukan seseorang. Pengkajian toleransi aktivitas diperlukan jika ada perencanaan aktivitas seperti jalan, latihan rentang gerak, atau aktivitas sehari-hari dengan penyakit akut atau kronik. Selain itu, pengetahuan toleransi aktifitas klien dibutuhkan untuk merencanakan terapi keperawatan lainnya.
Pengkajian toleransi aktivitas meliputi dua fisiologis, emosional, dan tingkat perkembangan. Pengkajian ini dapat dipakai di semua klinik dan dilengkapi oleh perawat dengan segera.

h.        Masalah terkait mobilitas
Pengkajian ini dilakukan melalui metode inspeksi, palpasi, dan auskultasi; pemeriksaan hasil tes laboratorium; serta pengukuran berat badan, asupan cairan, dan haluaran cairan. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan segera setelah klien mengalalmi imobilisasi. Data yang diperoleh tersebut kemudian menjadi standar yang akan dibandingkan dengan data selama periode imobilisasi.




2.        Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang dapat terjadi pada masalah mekanika tubuh dan ambulasi, antara lain :

1)        Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan adanya kelemahan akibat spasme muskulusletal pada ekstremitas, nyeri akibat peradangan sendi, atau penggunaan alat bantu dalam waktu lama.
2)        Resiko cedera berhubungan dengan adanya paralisis, gaya berjalan tidak stabil, atau penggunaan tongkat yang tidk benar.
3)        Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik secara umum.
Ketidaktepatan Mekanika Tubuh dan Hambatan Mobilisasi Diagnosa Keperawatan
Intoleransi aktifitas yang berhubungan dengan :
•    Kesejajaran tubuh yang buruk
•    Penurunan mobilisasi
Risiko cedera yang berhubungan dengan :
•    Ketidaktepatan mekanika tubuh
•    Ketidaktepatan posisi
•    Ketidaktepatan teknik pemindahan
Hambatan mobilisasi fisik yang berhubungan dengan :
•    Penurunan rentang gerak
•    Tirah baring
•    Penurunan kekuatan
Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan :
•    Statis sekresi paru
•    Ketidaktepatan posisi tubuh
Ketidakefektifan pola napas yang berhubungan dengan :
•    Penurunan pengembangan paru
•    Penumpukan sekresi paru
•    Kertidaktepatan posisi tubuh
Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan :
•    Pola napas tidak efektif
•    Penurunan pengembangan paru
•    Penumpukan sekresi paru
Gangguan integritas kulit atau resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan :
•    Keterbatasan mobilisasi
•    Tekanan permukaan kulit
•    Gaya gesek
Gangguan eliminasi urine yang berhubungan dengan :
•    Keterbatasan mobilisasi
•    Risiko infeksi
•    Retensi urine
Risiko infeksi yang berhubungan dengan :
•    Statisnya sekresi paru
•    Kerusakan integritas kulit
•    Statisnya urine
Inkontinensia total yang berhubungan dengan :
•    Perubahan pola eliminasi
•    Keterbatasan mobilisasi
Risiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan :
•    Penurunan asupan cairan
Ketidakefektifan koping individu yang berhubungan dengan :
•    Pengurangan tingkat aktifitas
•    Isolasi sosial
Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan :
•    Keterbatasan mobilisasi
•    Ketidaknyamanan
3.        Perencanaan
1)        Memperbaiki penggunaan mekanika tubuh saat melakukan aktivitas sehari-hari.
2)        Memulihkan dan memperbaiki ambulasi.
3)        Mencegah terjadinya cedera akibat jatuh.

4.        Implementasi
Prosedur-prosedur dalam bagian ini sebagai prinsip mekanika tubuh yang diperlukan untuk menjaga atau memperbaiki kesejajaran tubuh:
Teknik Mengangkat. Perawat berisiko mengalami cedera otot lumbal ketika mengangkat, memindahkan, atau mengubah posisi klien imobilisasi. Sebelum mengangkat, perawat harus mengkaji kemampuan mengangkat klien atau objek yang akan diangkat dengan menentukan kriteria dasar cara mengangkat sebagai berikut :
•    Posisi beban.
•    Tinggi objek.
•    Posisi tubuh.
•    Berat maksimum.

      Teknik mengubah posisi. Klien yang mengalami gangguan fungsi sistem skeletal, saraf atau otot dan meningkatkan kelemahan serta kekuatan biasanya membutuhkan bantuan perawat untuk memperoleh kesejajaran tubuh yang tepat ketika selama berada di tempat tidur atau duduk. Banyak alat bantu dapat dipakai perawat untuk mempertahankan kesejajaran tubuh klien yang baik selama diposisikan.
                  Tindakan Keperawatan
v  Memindahkan Pasien dari Brankar ke tempat tidur atau sebaliknya
a)        Pasien diangkat oleh sekurang-kurangnya 3 orang perawat (sesuai kebutuhan).
b)        Ketiga perawat berdiri pada sisi kanan pasien dengan urutan sebagai berikut :
l  (b-a) Perawat I ( paling tinggi) berdiri di bagian kepala
l  (b-b) Perawat II berdiri di bagian pinggang
l  (b-c) Perawaat III berdiri di bagian kaki.
c)        Lengan kiri perawat I di bawah kepala dan pangkal lengan pasien , dan lengan kanan di bawah punggung pasien (bila pasien gemuk, lengan kanan perawat I melalui badan pasien ke bawah pinggang pasien sehingga berpegangan dengan pergelangan tangan kiri perawat II).
d)       Lengan kiri perawat II di bawah pinggang pasien lengan kakan di bawah bokong pasien.
e)        Kedua lengan perawat II mengankat seluruh tungkai pasien.
f)         Setelah siap,salah seorang pasien memberi aba-aba untuk bersama- sama mengangkat pasien.
g)        Denagn langkah bersamaan para perawat mulai berjalan menuju ke tempat tidur atau brangkar posisinya diatur dan selimut dipasang atau dirapikan.

v  Memindahkan Pasien dari kursi roda ke tempat tidur
a.         Kursiroda di dorong ke sisi tempat tidur, dan roda belakangnya harus di tahan atau di rem agar kursi roda tidak terbalik.
b.        Kedua tangan perawat menopang ketiak pasien pada titik yang lemah /sakit dan pasien dianjurkan bertumpu pada sisi yang kuat.
c.         Perawat memimpin pasien untuk turun dari kursi roda dan berjalan bersama menuju tempat tidur
d.        Pasien bersandar pada sisi tempat tidur,kemudian dibantu perawat untuk naik ( kalau perlu digunakan kursi).
e.         Setelah pasien di atas tempat tidur, posisinya diatur sesuai kebutuhan, kemudian dirapikan.
Perhatian:
1. Perhatikan keadaan umum pasien
2. Hindari tindakan yang menimbulkan rasa lelah pada pasien .

v  Menolong pasien Berjalan menuju kursi

Pengertian
Membantu pasien turun dari tempat tidur untuk duduk di kursi bagi yang tidak dapat berjalan sendiri, tapi sudah boleh duduk.

Tujuan
1. Membantu mobilitas pasien untuk melatih dan melemaskan otot.
2. Memberikan rasa nyaman pada pasien.
3. Mempermudah merapikan tempat tidur.

Persiapan
1.Alat
1. Kursi
2. Selimut
3. Bantal
4. Bel bila perlu
2. Persiapan Pasien
Pasien dirapikan dan diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan        dilakukan
Pelaksanaan
a.         Kursi diletakan dekat tempat tidur, sepatu / sendal pasien di siapkan
b.        Pasien di dudukan dan dibantu bergeser ke pinggir tempat tidur, kemudian kedua kakinya diletakan di atas kursi.
c.         Kaki pasien diturunkan satu persatu dari kursi, kemudian perawat membantu pasien berdiri dan melangkah perlahan- lahan menuju kursi yang telah disediakan
d.        Pasien didudukan di kursi, jika perlu diberi bantal atau selimut untuk bersandar

Perahatian
A. Perhatikan keadaan umum pasien
B. Hindarkan pasien duduk terlalu lama di kursi agar tidak lelah.
C. Hindarkan mebempatkan pasien di tempat yang banyak angin.

5.        Evaluasi
Evaluasi yang diharapkan dari tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah mekanika tubuh dan ambulasi adalah unyuk menilai kemampuan pasien dalam menggunakan mekanika tubuh dengan baik, menggunakan alat bantu gerak, cara menggapai benda, naik atau turun, dan berjalan.







B. Body Aligmant

1)        Pengertian Body Aligmant (Postur Tubuh)
Postur tubuh merupakan susunan geometris dari bagian-bagian tubuh yang berhubungan dengan bagian tubuh lain. bagian yang dipelajari dari postur tubuh adalah persendian, tendon, ligamen, dan otot. Apabila keempat bagian terscabut digunakan dengan benar dan terjadi keseimbangan, maka dapat menjadikan fungsi tubuh maksimal, seperti dalam posisi duduk, berdiri dan berbaring yang benar.

2)        Prinsip Body Aligmant
Prinsip body alignment adalah sebagai berikut:

1.        Keseimbangan dapat dipertahankan jika line of gravity melewati dan base of support.
2.        The base of support lebih luas dan pusat gravity lebih rendah kestabilan dan keseimbangan lebih besar.
3.        .Jika line gravity berada diluar pusat dari base of support, energi lebih banyak digunakan untuk mempertahankan keseimbangan.
4.         The base of support yang luas dan bagian-bagian dari body alignment baik akan menghemat energi dan mencegah kelelahan otot.
5.         Perubaan dalam posisi tubuh membantu mencegah ketidaknyamanan otot-otot.
6.        Body alignment yang jelek dalam waktu yang lama dapat menimbulkan rasa nyeri kelelahan otot dan kontraktur.
7.         Karena struktur enatomi individu berbeda maka intervensi keperawatan harus secara individual dan sesuai dengan kebutuhan individu tersebut.
8.        Memperkuat otot-otot yang lemah, membantu mencegah kekakuan otot dan ligament ketika body alignment jelek baik secara temporal maupun penggunaan yang kurang hati-hati.
 
3)        Faktor yang Mempengaruhi Body Aligmant

1.         Gravity
l  Gravity adalah atraksi timbale balik antara tubuh dan bumi.
l  Pusat  gravity: titik pusat seluruh massa dari suatu objek.
l  The line of gravity: imaginary garis vertical melalui pusat gravity suatu objek.
l   The base of support: fondasi dimana seseorang sedang istirahat.
2.         Postural reflek dan Apposing Muscles Group.
Action dari otot postural yang terus menerus menyokong seseorang pada posisi tegak melawan gravity.
Ø  Otot ekstensor: otot-otot anti gravity.
Ø  Kontraksi otot-otot menyokong posisi tegak disebut postural tonus.
Ø  Numorous postural/Righting reflek merangsang dan mempertahankan postural tonus adalah:
1) Labyrithing sense
2) Tonicneel-righting reflex.
3) Actual oroptic reflex
4) Propoceptor or kinesthetic sense.
5) Extensor or anti gravity (stretum) reflex
6) Plantar reflex.
7) Perubahan postur
8) Struktur anatomy individu yang berbeda.


Dalam menghasilkan suatu gerak, suatu otot tidak bekerja sendirian, tetapi selalu berpasangan dengan otot lain. Bila suatu otot berkontraksi, akan menggerakkan tulang yang dilekatinya kesuatu arah tertentu, sedangkan otot yang lain, yang merupakan pasangannya akan menggerakkan kearah lain yang berlawanan. Dua otot yang menggerakkan tulang kearah yang berlawanan disebut otot antagonis.
Berdasarkan arah geraknya, gerakan antagonis dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu:
a.         Ekstensi, lawannya fleksi. Ekstensi adalah gerak meluruskan , sedangkan fleksi adalah gerak menekuk atau membengkokkan. Misalnya gerak pada siku.
b.         Abduksi atau gerakan menjauhi badan, lawannya adduksi atau gerakan mendekati badan.
c.         Depresi gerak menurunkan, lawannya elevasi atau gerak mengangkat.
d.        Supinasi atau gerak menengadahkan tangan, lawannya pronasi atau gerakan menelungkupkan tangan.
3.      Perubahan dalam postur
Kelainan pada ruas tulang belakang ada beberapa macam:
1)        Skoliosis
ü  Diskripsi: kurvatura spinal lateral, tinggi pinggul dan bahu tidak sama.
ü  Penyebab: kondisi congenital, poliomyelitis, paralisis spastic, panjang kaki tidak sama
ü  Penatalaksanaan: immobilisasi dan operasi (berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan).
2)        Kifosis
ü  Diskripsi: peningkatan kelengkungan pada kurva spinal torakal.
ü  Penyebab: kondisi congenital, penyakit tulang atau ricket tuberkolosis spinal.
ü  Penatalaksanaan: latihan peregangan spinal, tidur tanpa bantal, menggunakan papan tempat tidur, memakai jaket, penggabungan spinal (berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan).
3).  Lordosis
ü  Diskripsi: kurva anterior pada spinal lumbal yang melengkung berlebihan.
ü  Penyebab: kondisi congenital, kondisi temporer missal, kehamilan.
ü  Penatalaksanaan: latihan peregangan spinal berdasarkan penyebab.
4).  Tortikolis
ü  Diskripsi: mencondongkan kepala ke sisi yang sakit, dimana otot  sternokleidomastoideus berkontraksi.
ü  Penyebab: kondisi congenital.
ü  Penatalaksanaan: operasi, pemanasan, topangan, atau imobilisasi berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan.
5). Kifolordosis
ü  Diskripsi: kombinasi dari kifosis dan lordosis.
ü  Penyebab: kondisi congenital.
ü  Penatalaksanaan: sama dengan metode yang digunakan untuk kifosis           dan lordosis berdasarkan penyebab.
6).           Kifoskoliosis
ü  Diskripsi: tidak normalnya kurva spinal anteroposteriol dan lateral.
ü  Penyebab: kondisi congenital, poliomyelitis, kor pulmonal.
ü  Penatalaksanaan: immobilisasi dan operasi (berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan).
7). Dysplasia Pinggung Kongenital
ü  Diskripsi: ketidakstabilan pinggul dengan keterbatasan abduksi pinggul, dan kadang-kadang kontraktur adduksi (kaput vemur tidak bersambung               dengan assetatbulum karena abnormal kedangkalan assetatbulum).
ü  Penyebab: kondisi congenital (biasanya dengan kelahiran sungsang).
ü  Penatalaksanaan: mempertahankan abduksi paha yang terus menerus sehingga kaput vemur menekan ke bagian tengah assetatbulum, beban abduksi, gips, pembedahan.
8). Kock-knee (genu varum)
                     
ü  Diskripsi: kurva kaki yang masuk ke dalam sehingga lutut rapat jika seseorang berjalan.
ü  Penyebab: kondisi congenital, penyakit tulang atau ricket,
ü  Penatalaksanaan: knee braces, operasi jika tidak dapat diperbaiki oleh pertumbuhan.
4  Perubahan struktur anatomi
a). Gangguan tulang
Meliputi beberapa gangguan diantaranya adalah retak atau patah tulang (fraktura) dan pertumbuhan tulang kaki yang mengalami hambatan sebelum lahir. Gejala patah tulang yang nyata adalah timbulnya rasa sakit yang hebat pada daerah tulang yang retak, terjadi pembekakan dan kadang-kadang pendarahan. Pada tulang anak yang masih dalam masa pertumbuhan, tulang yang retak dapat menyatu kembali seperti semula disebut reduksi.

Fraktura dapat dibedakan sebagai berikut:
1.        Fraktura sederhana, jika tulang yang meretak tidak sampai melukai organ lain disekitarnya, misalnya organ otot.
2.        Fraktur kompleks atau fraktura majemuk, jika tulang yang patah menyebabkan otot dan kulit terluka, kadang kala tulang mencuat keluar kulit.
3.         Greenstick atau tulang tak lengkap, jika tulang hanya retak sebagian dan tulangnya tak sampai pisah,
4.        Comminuted atau remuk, jika tulang retak menjadi beberapa bagian tetapi masih tetap tertahan di dalam otot.
b). Gangguan persendian
Gangguan pada bagian ini ada empat macam antara lain:
l   Dislokasi adalah sobek atau tertariknya legamin sehingga terjadi pergeseran kedudukan sendi.
l  Terkilir atau keseleo adalah tertariknya ligamen sendi yang disebabkan oleh gerakan yang tiba-tiba atau tidak biasa dilakukan. Keseleo ditandai timbulnya rasa sakit hebat yang disertai peradangan pada daerah sendi.
l  Ankilosis adalah keadaan ketika sendi tidak dapat digerakkan karena seolah-olah tulang sendi menyatu.
l  Artritis atau infeksi sendi adalah gangguan sendi yang ditandai terjadinya peradangan sendi yang disertai timbulnya rasa sakit dan kadang-kadang tulang sendi mengalami perubahan.
Artritis dapat di bedakan menjadi beberapa jenis yaitu reumatoid, osteoartritis dan goutartritis.
a)         Reumatoid adalah penyakit kronis pada jaringan penghubung sendi. Pada jaringan ikat terasa sakit serta sendinya mengalami ankilosis.
b)        Osteoartritis adalah penyakit kemunduran sendi yang disebabkan oleh degenarasi serta menipisnya tulang rawang, sehingga merangsang terbentuknya tulang pada sendi.
c)        Goutartritis adalah gangguan gerak karena kegagalan metabolisme asam urat yang berlebihan yang akan diangkut oleh darah dan disimpan di dalam sendi kecil, seperti ruas jari-jari. Tanda sendi yang mengalami kelebihan asam urat ialah sendi yang membesar.
         c). Gangguan pada otot
Beberapa gangguan pada otot antara lain:
1.        Astrofi adalah keadaan dimana otot mengecil sehingga menghilangkan kemampuannya untuk berkontraksi. Jaringan otot yang astrofi dapat mengalami penurunan ukurannya sampai 25%.
2.        Hipertrofi adalah keadaan otot menjadi lebih besar dankuat karena sering dilatih secara berlebih, misalnya para binaragawan dan atlet angkat berat.
3.        Kejang otot adalah gangguan ini terjadi karena melakukan aktivitas terus menerus yang pada suatu ketika tak mampu lagi melakukan kontraksi alias kejang karena telah kehabisan energi.
4.        Kaku leher atau stiff adalah keadaan leher terasa kaku dan sakit jika digerakkan .
5.        Tetanus adalah kejang otot yang disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh basil tetanus.
6.        Miastema gravis adalah keadaan ketika otot berangsur-angsur menjadi lemah dan menyebabkan kelumpuhan dan kadang-kadang menyebabkan kematian.
7.        Distrofi otot adalah penyakit otot kronis sejak anak-anak menurut dugaan penyakit ini diturunkan
8.        Hernia abdominalis adalah sobeknya otot dinding perut yang lemah yang mengakibatkan usus melorot ke bawah masuk ke rongga perut.

Ada factor- factor lain yang mempengaruhi body alignment
                                a. Status kesehatan
                                b. Nutrisi
                                c. Emosi
                                d. Faktor social
                                e. Gaya hidup (life style)
                                f. Perilaku dan nilai-nilai
                                g. Hidrasi pasien
4)        Konsekuensi Posisi Tubuh yng Kurang Baik
Ada beberapa gangguan tulang yang disebabkan oleh posisi tubuh yang tidak baik antara lain:
a. Rakitis adalah penyakit tulang karena kekurangan vitamin D. Vitamin ini berfungsi membantu proses penimbunan zat kapur dalam osifikasi atau penulangan. Jadi kekurangan vitamin D mengakibatkan tulang keras.
b. Mikrosefalus adalah gangguan pada pertumbuhan tulang tengkorak karena kekurangan zat kapur pada masa pembentukan tulang tengkorak, masa bayi, sehingga kepala berukuran kecil tidak profesional.
c. Osteoporosis adalah gangguan dengan gejala rapuh, kurang keras yang diakibatkan kekurangan hormon kelamin pria ataupun wanita.
d. Kelainan lainnya antara lain karena penyakit TBC, tumor yang mempengaruhi tekanan fisik dan fisiologis tulang, serta peradangan pada jaringan pengikat atau tendon.

5)        . Asuhan Keperawatan Body Alighment
1. Pengkajian keperawatan
Terdapat beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam mengkaji masalah postur tubuh, di antaranya :
a)         Postur tubuh yang benar pada saat berbaring, duduk, dan berdiri
b)        Perubahan dalam tumbuh kembang, identifikasi adanya trauma, kerusakn otot atau saraf, dan kemngkinan factor yang menyebabkan postur tubuh yang buruk.
2. Diagnosis keperawatan
a)        Nyeri yang berhubungan dengan posisi duduk, berdiri, dan berbaring yang salah akibat pemakaian gips pada daerah  ekstremitas.
b)        Bangguan mobilitas berhubungan dengan drop foot lutut akibat kontraktur.
c)        Resiko cidera berhubungan dengan gangguan keseimbangan yang di sertai kelemahan otot.
3.  Perencanaan dan pelaksanaan keperawatan
a. Pertahankan postur tubuh yang tepat dengan pengaturan posisi tubuh yang tepat.
b.Perbaiki postur tubuh pada tingkat optimal dengan melatih duduk, berdiri, atau tidur secara optimal.
c. Kurangi cidera akibar postur tubuh yang tidak tepat dengan membantupasien melakukan aktivitas sehari-hari.
d.        Kurangi beban otot dengan cara meletakkan alat dekat dengan pasien dan bantu kegiatan yang menimbulkan beban berat.
e. Cegah komplikasi akibat postur tubuh yang tidak tepat.



   




















BAB III
PENUTUP
v  Kesimpulan
Mekanika tubuh adalah koordinasi dari muskuloskeletal dan sistem saraf untuk mempertahankan keseimbangan yang tepat. Mekanisme tubuh dan ambulasi merupakan cara menggunakan tubuh secara efisien yaitu tidak banyak mengeluarkan tenaga, terkoordinasi serta aman dalam menggerakkan dan mempertahankan keseimbangan selama aktivitas.
pengetahuan tentang bagaimana dan mengapa kelompok otot tertentu digunakan untuk menghasilkan dan mempertahankan gerakan secara aman. Dalam menggunakan mekanika tubuh yang tepat perawat perlu mengerti pengetahuan tentang pergerakan, termasuk bagaimana mengoordinasikan gerakan tubuh yang meliputi fungsi integrasi dari system skeletal, otot skelet, dan system saraf. Selain itu, ada kelompok otot tertentu yang terutama digunakan unutk pergerakan dan kelompok otot lain membentuk postur/bentuk tubuh.
Postur tubuh merupakan susunan geometris dari bagian-bagian tubuh yang berhubungan dengan  bagian tubuh lain. Gravitasi merupakan prinsip yang pertama yang harus diperhatikan dalam melakukan mekanika tubuh dengan benar, yaitu memandang gravitasi sebagai sumbu dalam pergerakan tubuh.
Dalam melaksanakan  tugasnya sebagai alat gerak, rangka dan otot sering mengalami gangguan tulang dan otot di dalam tubuh kita sering menanggung beban yang terlalu berat sehingga mengalami gangguan atau kelainan. Perubahan dalam postur: Sekoliosis, Kifosis, Lordosis. Konsekuensi posisi tubuh yang tidak baik: Rakitis, Mikrosefalus, Osteoporosis.

v  Saran
Seluruh anggota tubuh kita sangat penting, jadi sayangilah bagian-bagiannya baik dari dalam maupun dari luar agar hidup lebih berarti dan selalu sehat

























DAFTAR PUSTAKA


Ø  Bandiyah siti ,2013 , Keterampilan Dasar Dalam Keperawatan , Nuha Medika :Yogyakarta

1 komentar:

  1. Casinos Near Casinos, Hotels & Resorts - Mapyro
    Find 강원도 출장안마 Casinos Near Casinos, Hotels 용인 출장마사지 & 수원 출장안마 Resorts in Mapyro, CA in 충청남도 출장샵 real-time 충청남도 출장안마 and see activity.

    BalasHapus