BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Istirahat dan tidur merupakan
kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang. Untuk dapat berfungsi secara
normal, maka setiap orang memerlukan istirahat dan tidur yang cukup. Pada
kondisi istirahat dan tidur, tubuh melakukan proses pemulihan untuk
mengembalikan stamina tubuh hingga berada dalam kondisi yang optimal.
Setiap individu mempunyai kebutuhan
istirahat dan tidur yang berbeda. Pola istirahat dan tidur yang baik dan
teratur memberikan efek yang bagus terhadap kesehatan. Namun dalam keadaan
sakit, pola tidur seseorang biasnya terganggu, sehingga perawat perlu berupaya
untuk membantu pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur klien. Kebutuhan
istirahat dan tidur pada individu yang sakit sangat diperlukan untuk
mempercepat proses penyembuhan. Oleh karena itu, perawat harus mempunyai
kompetensi yang baik terkait dengan kebutuhan istirahat dan tidur.
B.
Rumusan
Masalah
Adapun
karya tulis yang berjudul “Istirahat dan Tidur” adalah untuk mendeskripsikan
tentang:
1. Apa
yang dimaksud dengan istirahat dan tidur?
2. Bagaimana
fisiologi tidur?
3. Bagaimana
kebutuhan dan pola istirahat tidur?
4. Apa
saja fungsi tidur?
5. Faktor-faktor
apa saja yang mempengaruhi istirahat dan tidur?
6. Apa
saja gangguan-gangguan istirahat dan tidur?
7. Bagaimana
proses keperawatan pada pasien dengan gangguan istirahat dan tidur?
C.
Tujuan
Penulisan
Adapun
karya tulis yang berjudul “Istirahat dan Tidur” adalah untuk menjelaskan
tentang:
1. Pengertian
istirahat dan tidur.
2. Fisiologi
tidur.
3. Kebutuhan
dan pola istirahat tidur
4. Fungsi
tidur.
5. Faktor-faktor
yang mempengaruhi istirahat dan tidur.
6. Gangguan
– gangguan istirahat dan tidur.
7. Proses
keperawatan pada pasien dengan gangguan istirahat dan tidur.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Istirahat dan Tidur
1. Istirahat merupakan keadaan relaks
tanpa adanya tekanan emosional, bukan hanya dalam keadaan tidak beraktivitas
tetapi juga kondisi yang membutuhkan ketenangan. Kata istirahat berarti
berhenti sebentar untuk melepaskan lelah, bersantai untuk menyegarkan diri atau
melepaskan diri dari segala hal yang membosankan, menyulitkan bahkan
menjengkelkan (Hidayat, 2008).
2. Tidur merupakan suatu keadaan tidak
sadar dimana persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun atau
hilang, dan dapat dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup.
Tidur ditandai dengan aktivitas fisik minimal, tingkat kesadaran yang
bervariasi, terjadi perubahan proses fisiologis tubuh serta penurunan respon
terhadap rangsangan dari luar (Asmadi, 2008).
B.
Fisiologi
Tidur
Fisiologi tidur merupakan pengaturan
kegiatan tidur oleh adanya hubungan mekanisme serebral yang secara bergantian
mengaktifkan dan menekan pusat otak agar dapat tidur dan bangun. Salah satu
aktivitas tidur ini diatur oleh sistem pengaktivasi retikularis yang merupakan
sistem yang mengatur seluruh tingkatan kegiatan susunan saraf pusat termasuk
pengaturan kewaspadaan dan tidur (Hidayat, 2008).
Pusat pengaturan aktivitas
kewaspadaan dan tidur terletak dalam mesensefalon dan bagian atas pons.
Reticular Activating System (RAS) berlokasi pada batang otak teratas. RAS
dipercayai terdiri dari sel khusus yang mempertahankan kewaspadaan dan tidur.
Selain itu, RAS dapat memberikan rangsangan visual, pendengaran, nyeri, dan
perabaan juga dapat menerima stimulasi dari korteks serebri termasuk rangsangan
emosi dan proses pikir. Dalam keadaan sadar, neuron dalam RAS akan melepaskan
katekolamin seperti norepineprin. Demikian juga pada saat tidur, kemungkinan
disebabkan adanya pelepasan serum serotonin dari sel khusus yang berada di pons
dan batang otak tengah, yaitu Bulbar Synchronizing Regional (BSR), sedangkan
bangun tergantung dari keseimbangan impuls yang diterima di pusat otak dan
sistem limbic. Dengan demikian, sistem pada batang otak yang mengatur siklus
atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR (Hidayat, 2008).
Ketika orang mencoba tertidur,
mereka akan menutup mata dan berada dalam posisi relaks. Stimulus ke RAS
menurun. Jika ruangan gelap dan tenang, maka aktivasi RAS selanjutnya menurun.
Pada beberapa bagian BSR mengambil alih yang menyebabkan tidur
(Potter&Perry, 2006). Menurut hasil penelitian ada 2 tahap/pola tidur,
yaitu:
1.
Pola Tidur Biasa atau NREM
Pola / tipe tidur biasa ini juga
disebut NREM (Non Rapid Eye Movement = Gerakan mata tidak cepat). Pola
tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam tidur gelombang pendek karena
gelombang otak selama NREM lebih lambat daripada gelombang alpha dan beta pada
orang yang sadar atau tidak dalam keadaan tidur (lihat gambar). Tanda-tanda
tidur NREM adalah:
a. Mimpi berkurang
b. Keadaan istirahat (otot mulai
berelaksasi)
c. Tekanan darah turun
d. Kecepatan pernafasan turun
e. Metabolisme turun
f. Gerakan mata lambat
Fase NREM atau tidur biasa ini
berlangsung ± 1 jam dan pada fase ini biasanya orang masih bisa mendengarkan
suara di sekitarnya, sehingga dengan demikian akan mudah terbangun dari
tidurnya. Tidur NREM ini mempunyai 4 (empat) tahap yang masing-masing tahap di
tandai dengan pola gelombang otak.
a. Tahap 1
Tahap ini merupakan tahap transisi,
berlangsung selama 5 menit yang mana seseorang beralih dari sadar menjadi
tidur. Seseorang merasa kabur dan relaks, mata bergerak ke kanan dan ke kiri,
kecepatan jantung dan pernafasan turun secara jelas. Gelombang alpha sewaktu
seseorang masih sadar diganti dengan gelombang betha yang lebih lambat. Seseorang
yang tidur pada tahap I dapat di bangunkan dengan mudah. Ketika bangun
seseorang merasa seperti telah melamun.
b. Tahap 2
Tahap ini merupakan tahap tidur
ringan, dan proses tubuh terus menurun. Mata masih bergerak-gerak, kecepatan
jantung dan pernafasan turun dengan jelas, suhu tubuh dan metabolisme menurun.
Gelombang otak ditandai dengan “sleep spindles” dan gelombang K komplek.
Tahap II berlangsung pendek dan berakhir dalam waktu 10 sampai dengan 15 menit.
Pada tahap ini merupakan periodetidur bersuara, kemajuan relaksasi, untuk
bangun relatif mudah.
c. Tahap 3
Pada tahap ini meliputi awal dari
tidur dalam. Otot –otot dalam keadaan santai penuh, kecepatan jantung,
pernafasan serta proses tubuh berlanjut mengalami penurunan akibat dominasi
sistem syaraf parasimpatik. Seseorang menjadi lebih sulit dibangunkan dan
jarang bergerak. Gelombang otak menjadi lebih teratur dan terdapat penambahan
gelombang delta yang lambat. Tahap ini berlangsung 15-30 menit.
d. Tahap 4
Tahap ini merupakan tahap tidur
dalam yang ditandai dengan predominasi gelombang delta yang melambat. Kecepatan
jantung dan pernafasan turun. Seseorang dalam keadaan rileks, jarang bergerak
dan sulit dibangunkan. (mengenai gambar grafik gelombang dapat dilihat dalam
gambar). Siklus tidur sebagian besar merupakan tidur NREM dan berakhir dengan
tidur REM. Tahap ini berlangsung 15-30 menit.
2.
Pola Tidur Paradoksikal atau REM
Pola / tipe tidur paradoksikal ini
disebut juga (Rapid Eye Movement = Gerakan mata cepat). Tidur tipe ini
disebut “Paradoksikal” karena hal ini bersifat “Paradoks”, yaitu
seseorang dapat tetap tertidur walaupun aktivitas otaknya nyata. Tidur REM /
Paradoks merupakan pola/tipe tidur dimana otak benar-benar dalam keadaan aktif.
Namun, aktivitas otak tidak disalurkan ke arah yang sesuai agar orang itu
tanggap penuh terhadap keadaan sekelilingnya kemudian terbangun. Pola/tipe
tidur ini, ditandai dengan perbedaan antara mimpi-mimpi yang timbul sewaktu tahap tidur NREM dan tahap tidur REM adalah bahwa mimpi
yang timbul pada tahap tidur REM dapat diingat kembali, sedangkan mimpi selama
tahap tidur NREM biasanya tak dapat
diingat. Jadi selama tidur NREM tidak terjadi konsolidasi mimpi dalam
ingatan.
a. Mengigau atau bahkan mendengkur
b. Otot-otot kendor (relaksasi total)
c. Kecepatan jantung dan pernafasan
tidak teratur, sering lebih cepat
d. Perubahan tekanan darah
e. Gerakan otot tidak teratur
f. Gerakan mata cepat
g. Pembebasan steroid
h. Sekresi lambung meningkat
i.
Ereksi
penis pada pria
Syaraf-syaraf
simpatik bekerja selama tidur REM. Dalam tidur REM diperkirakan terjadi proses
penyimpanan secara mental yang digunakan sebagai pelajaran, adaptasi psikologis
dan memori (Hayter, 1980:458). Fase tidur REM (fase tidur nyenyak) ini
berlangsung selama ± 20 menit. Dalam tidur malam yang berlangsung selama 6 – 8
jam, kedua pola tidur tersebut (REM dan NREM) terjadi secara bergantian
sebanyak 4 – 6 siklus.
C. Kebutuhan dan Pola Istirahat Tidur
|
Tingkat Perkembangan/ Usia
|
Pola Tidur Normal
|
|
Bayi
baru lahir
(0 – 1
bulan)
|
Tidur 14-18 jam sehari, pernafasan
teratur, gerak tubuh sedikit, 50% tidur NREM, banyak waktu tidurnya
dilewatkan pada tahap III dan IV tidur NREM. Setiap siklus sekitar 45-60
menit.
|
|
Bayi
(1 – 18
bulan)
|
Tidur 12-14 jam sehari, 20-30%
tidur REM, tidur lebih lama pada malam hari dan punya pola terbangun sebentar
|
|
Toddler
(18
bulan – 3 tahun)
|
Tidur sekitar 10-12 jam sehari,
25% tidur REM, banyak tidur pada malam hari, terbangun dini hari berkurang,
siklus bangun tidur normal sudah menetap pada umur 2-3 tahun
|
|
Pra
Sekolah
(3 – 6
tahun)
|
Tidur sekitar 11 jam sehari, 20%
tidur REM, periode terbangun kedua hilang pada umur 3 tahun. Pada umur 5 tahun,
tidur siang tidak ada kecuali kebiasaan tidur sore hari.
|
|
Usia
Sekolah
(6 – 12
tahun)
|
Tidur sekitar 10 jam sehari, 18,5%
tidur REM. Sisa waktu tidur relatif konstan.
|
|
Remaja
(12 – 18
tahun)
|
Tidur sekitar 8,5 jam sehari, dan
20% tidur tahap III-IV.
|
|
Dewasa
Muda
(18 – 40
tahun)
|
Tidur sekitar 7-9 jam sehari,
20-25% tidur REM, 5-10% tidur tahap I, 59% tidur tahap II, dan 10-20% tidur
tahap III-IV.
|
|
Dewasa
Pertengahan
(40 – 60
tahun)
|
Tidur sekitar 7 jam sehari, 20%
tidur REM, mungkin mengalami insomnia dan sulit untuk dapat tidur.
|
|
Dewasa
Tua
(> 60
tahun)
|
Tidur sekitar 6 jam sehari, 20-25%
tidur REM, tidur tahap IV nyata berkurang kadang-kadang tidak ada. Mungkin
mengalami insomnia dan sering terbangun sewaktu tidur malam hari.
|
D.
Fungsi
Tidur
1. Memperbaiki keadaan fisiologis dan
psikologis.
2. Melepaskan stress dan ketegangan.
3. Memulihkan keseimbangan alami di
antara pusat-pusat neuron.
4. Secara tradisional, dipandang
sebagai waktu untuk memperbaiki dan menyiapkan diri pada waktu periode bangun.
5. Memperbaiki proses biologis dan
memelihara fungsi jantung.
6. Berperan dalam belajar, memori dan
adaptasi.
7. Mengembalikan konsentrasi dan
aktivitas sehari-hari.
8. Menghasilkn hormon pertumbuhan utk
memperbaiki serta memperbaharui epitel dan sel otak.
9. Menghemat dan menyediakan energi
bagi tubuh.
10. Memelihara kesehatan optimal dan
mengembalikan kondisi fisik.
E.
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Istirahat dan Tidur
Pemenuhan kebutuhan istirahat dan
tidur setiap orang berbeda – beda. Ada yang kebutuhannya terpenuhi dengan baik,
ada pula yang mengalami gangguan. Seseorang bisa tidur atau tidak dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya sebagai berikut:
1. Status Kesehatan
Seseorang yang kondisi tubuhnya
sehat memungkinkan ia dapat tidur dengan nyenyak. Tetapi pada orang yang sakit dan
rasa nyeri, maka kebutuhan istirahat dan tidurnya tidak dapat dipenuhi dengan
baik sehingga ia tidak dapat tidur dengan nyenyak. Misalnya pada klien yang
menderita gangguan pada sistem pernapasan. Dalam kondisinya yang sesak napas,
maka seseorang tidak mungkin dapat istirahat dan tidur (Asmadi, 2008).
2. Lingkungan
Lingkungan dapat meningkatkan atau
menghalangi seseorang untuk tidur. Pada lingkungan yang tenang memungkinkan
seseorang dapat tidur dengan nyenyak. Sebaliknya lingkungan yang ribut, bising,
dan gaduh akan menghambat seseorang untuk tidur. Keadaan lingkungan yang tenang
dan nyaman bagi seseorang dapat mempercepat terjadinya proses tidur (Hidayat,
2008).
3. Stress Psikologis
Cemas dan depresi akan menyebabkan
gangguan pada frekuensi tidur. Hal ini disebabkan karena pada kondisi cemas
akan meningkatkan norepinefrin darah melalui sistem saraf simpatis. Zat ini
akan mengurangi tahap IV NREM dan REM (Asmadi, 2008).
4. Diet / Nutrisi
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang
cukup dapat mempercepat proses tidur. Protein yang tinggi seperti pada keju,
susu, daging, dan ikan tuna dapat mempercepat proses tidur, karena adanya
triptofan yang merupakan asam amino dari protein yang dicerna (Hidayat, 2008).
Sebaliknya minuman yang mengandung kafein maupun alkohol akan mengganggu tidur
(Asmadi, 2008).
5. Gaya Hidup
Kelelahan dapat mempengaruhi pola
tidur seseorang. Kelelahan tingkat menengah orang dapat tidur dengan nyenyak.
Sedangkan pada kelelahan yang berlebihan akan menyebabkan periode tidur REM
lebih pendek (Asmadi, 2008).
6. Obat – Obatan
Obat dapat juga mempengaruhi proses
tidur. Beberapa jenis obat yang dapat mempengaruhi proses tidur adalah jenis
golongan obat diuretic menyebabkan seseorang insomnia, anti depresan dapat
menekan REM, kafein dapat meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan
kesulitan untuk tidur, golongan beta bloker dapat berefek pada timbulnya
insomnia, dan golongan narkotik dapat menekan REM sehingga mudah mengantuk
(Hidayat, 2008).
7. Motivasi
Motivasi merupakan suatu dorongan
atau keinginan seseorang untuk tidur, yang dapat mempengaruhi proses tidur.
Selain itu adanya keinginan untuk menahan tidak tidur dapat menimbulkan
gangguan proses tidur (Hidayat, 2008).
F.
Gangguan
Istirahat dan Tidur
1. Insomnia
Insomnia
adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan tidur, baik
secara kualitas maupun kuantitas. Gangguan tidur ini umumnya ditemui pada individu dewasa. Penyebabnya bisa karena gangguan fisik atau karena faktor mental seperti perasaan gundah atau gelisah. Ada tiga jenis insomnia:
secara kualitas maupun kuantitas. Gangguan tidur ini umumnya ditemui pada individu dewasa. Penyebabnya bisa karena gangguan fisik atau karena faktor mental seperti perasaan gundah atau gelisah. Ada tiga jenis insomnia:
1) Insomniainisial
: Kesulitan untuk memulai tidur.
2) Insomnia
intermiten : Kesulitan untuk tetap tertidur karena seringnya terjaga.
3) Insomnia
terminal : Bangun terlalu dini dan sulit untuk tidur kembali.
Beberapa langkah
yang bisa dilakukan untuk mengatasi insomniaanatara lain misalnya: membaca,
mendengarkan musik, dan tidur jika benar-benar mengantuk.
2. Parasomnia
Parasomnia
adalah perilaku yang dapat mengganggu tidur atau muncul saat seseorang tidur.
Gangguan ini umum terjadi pada anak-anak. Beberapa turunan parasomnia antara
lain sering terjaga (misalnya:
tidur berjalan, night terror), gangguan transisi bangun-tidur (misalnya:
mengigau), parasomnia yang terkait dengan tidur REM (misalnya: mimpi buruk), dan
lainnya (misalnya: bruksisme).
3.
Hipersomnia
Hipersomnia
adalah kebalikan dari insomnia, yaitu tidur yang berkelebihan terutama pada
siang hari. Gangguan ini dapat disebabkan oleh kondisi tertentu, seperti
kerusakan system saraf, gangguan pada hati atau ginjal, atau karena gangguan
metabolisme (misalnya: hipertiroidisme). Pada kondisi tertentu, hipersomnia
dapat digunakan sebagai mekanisme koping untuk menghindari tanggung jawab pada
siang hari.
4.
Narkolepsi
Narkolepsi
adalah gelombang kantuk yang tak tertahankan yang muncul secara tiba-tiba pada
siang hari. Gangguan ini disebut juga sebagai “serangan tidur” atau sleep
attack. Penyebab pastinya belum diketahui. Diduga karena kerusakan genetik
system saraf pusat yang menyebabkan tidak terkendalinya periode tidur REM. Alternatif
pencegahannya adalah dengan obat-obatan, seperti: amfetamin atau metilpenidase,
hidroklorida, atau dengan antidepresan seperti imipramin hidroklorida.
5.
Apnea saat tidur
Apnea saat
tidur atau sleep abnea adalah kondisi terhentinya napas secara periodik pada
saat tidur. Kondisi ini diduga terjadi pada orang yang mengorok dengan keras,
sering terjaga di malam hari, insomnia, mengatup berlebihan pada siang hari,
sakit kepala di siang hari, iritabilitas, atau mengalami
perubahan psikologis seperti hipertensi atau aritmia jantung.
6.
Deprivasi tidur
Deprivasi tidur adalah masalah yang
dihadapi banyak klien akibat disomnia. Penyebab dapat mencakup penyakit (misal:
demam, sulit bernafas atau nyeri), stress emosional, obat – obatan, gangguan
lingkungan (misal asuhan keperawtan yang dilakukan) dan keanekaragaman waktu
tidur yang terkait dengan waktu kerja. Dokter dan perawat cenderung mengalai
deprivasi tidur karena jadwal kerja yang panjang dan rotasi jam dinas.
Deprivasi tidur menyebabkan
penurunan kualitas dan kuantitas tidur serta ketidak konsistenan waktu tidur.
Respon orang terhadap deprivasi sangat bervariasi, gejala fisiologis : ptosis,
penglihatan kabur, kekakuan motorik halus, penurunan reflek, waktu respon
melambat, penilaian menurun, aritmia jantung. Gejala psikologisnya: bingung,
peningkatan sensifitas nyeri, menarik diri, apatis, rasa kantuk berlebihan,
agitasi, hiperaktif, penurunan motivasi.
7. Enuresis
Enuresis adalah kencing/BAK yang
tidak disengaja (mengompol). Terjadi pada anak-anak dan remaja, paling banyak
terjadi pada laki-laki. Penyebab secara pasti belum jelas, tetapi ada beberapa
faktor yang dapat menyebabkan enuresis seperti gangguan pada bladder, stres,
dan toilet training yang kaku. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah
enuresis anatara lain: hindari stres, hindari minum yang banyak sebelum tidur,
dan kosongkan kandung kemih (berkemih dulu) sebelum tidur.
8. Night terror
Night terror adalah mimpi buruk.
Umumnya terjadi pada anak usia 6 tahun atau lebih. Setelah tidur beberapa jam,
anak tersebut langsung terjaga dan berteriak, pucat dan ketakutan.
9. Mendengkur
Mendengkur disebabkan oleh rintangan
terhadap aliran udara di hidung dan mulut. Amandel yang membengkak dan adenoid
dapat menjadi faktor yang turut menyebabkan mendengkur. Pangkal lidah yang
menyumbat saluran napas pada lansia. Otot-otot di bagian belakang mulut
mengendur lalu bergetar jika dilewati udara pernapasan.
G.
Proses
Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Istirahat
dan Tidur
1. Pengkajian Kebutuhan Istirahat dan
Tidur
Aspek yang perlu dikaji pada klien
untuk mengidentifikasi gangguan kebutuhan istirahat dan tidur meliputi
pengkajian mengenai:
a. Pola tidur, seperti jam berapa klien
masuk kamar untuk tidur, jam berapa biasa bangun tidur, dan keteraturan pola
tidur klien.
b. Kebiasaan yang dilakukan klien
menjelang tidur, seperti membaca buku, buang air kecil, dan lain-lain.
c. Gangguan tidur yang sering dialami
klien dan cara mengatasinya.
d. Kebiasaan tidur siang.
e. Lingkungan tidur klien. Bagaimana
kondisi lingkungan tidur klien?, apakah kondisinya bising, gelap, atau suhu
dingin?
f. Peristiwa yang baru dialami klien
dalam hidup. Perawat mempelajari apakah peristiwa yang dialami klien, yang
menyebabkan klien mengalami gangguan tidur?
g. Status emosi dan mental klien.
Status emosional dan mental memengaruhi terhadap kemampuan klien untuk
istirahat dan tidur. Perawat perlu mengkaji mengenai status emosional dan
mental klien, misalnya apakah klien mengalami stress emosional atau ansietas?
Juga dikaji sumber stres yang dialami klien.
h. Perilaku deprivasi tidur yaitu
manifestasi fisik dan perilaku yang timbul sebagai akibat gangguan istirahat
tidur, seperti:
1) Penampilan wajah, misalnya adalah
adakah area gelap di sekitar mata, bengkak di kelopak mata, konjungtiva
kemerahan, atau mata yang terlihat cekung.
2) Perilaku yang terkait dengan
gangguan istirahat tidur, misalnya apakah klien mudah tersinggung, selalu
menguap, kurang konsentrasi, atau terlihat bingung.
3) Kelelahan, misalnya apakah klien
tampak lelah, letih, atau lesu.
2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang mungkin
ditemukan pada klien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur,
antara lain:
a. Gangguan pola tidur
Gangguan pola tidur inin dapat
disebabkan karena ansietas yang dialami klien, lingkungan yang tidak kondusif
untuk tidur (misalnya, lingkungan yang bising), ketidakmampuan mengatasi stres
yang dialami, dan nyeri akibat penyakit yang diderita klien.
1) Gangguan
pola tidur : kurang dari kebutuhan b/d kecemasan akan operasi.
2) Gangguan
pola tidur: lebih dari kebutuhan b/d penggunaan obat-obat sedativa.
3) Gangguan
pola tidur: kurang dari kebutuhan tubuh b/d nyeri perut yang terus menerus.
b. Perubahan proses pikir
Perubahan proses berpikir ini disebabkan
oleh terjadinya deprivasi tidur.
c. Gangguan harga diri
Gangguan harga diri terutama dialami
pada klien yang mengalami enuresis.
d. Risiko cedera
Risiko cedera terutama pada klien
yang menderita somnambulisme. Pada somnambulisme ini, klien melakukan aktivitas
tanpa disadari sehingga berisiko terjadinya kecelakaan, bisa berupa jatuh dari
tempat tidur, turun tangga, atau membentur tembok, dan lain-lain.
3. Intervensi Pemenuhan Kebutuhan
Istirahat dan Tidur
Pada klien yang dirawat di rumah
sakit dapat mengalami masalah istirahat dan tidur. Masalah tersebut sering
berhubungan dengan lingkungan rumah sakit, rutinitas ruangan, atau penyakit
yang dideritanya. Walaupun begitu, perawat mesti membantu klien untuk dapat
istirahat dan tidur.
Berikut ini merupakan beberapa
intervensi yang dapat diterapkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan istirahat
dan tidur pada klien yang dirawat.
a. Ciptakan lingkungan yang nyaman,
dapat dilakukan misalnya dengan:
1) Pintu kamar klien ditutup.
2) Kurangi stimulus, misalnya
percakapan.
3) Tempatkan klien dengan teman yang
cocok, dan lain-lain.
b. Membantu kebiasaan klien sebelum
tidur, misalnya dengan mendengarkan musik, membaca, dan berdoa. Pada klien
anak-anak, dapat dilakukan dengan membacakan dongeng, memegang boneka atau
benda yang disukainya.
c. Diet
1) Anjurkan klien untuk memakan makanan
yang mengandung tinggi protein, seperti susu dan keju.
2) Hindari banyak minum sebelum tidur.
d. Hindari latihan fisik yang
berlebihan sebelum tidur.
e. Hindari rangsangan mental yang tidak
menyenangkan sebelum tidur. Maksudnya, usahakan psikologi klien tenang, tidak
cemas, ataupun stres sebelum tidur.
f. Berikan rasa nyaman dan rileks,
misalnya dengan:
1) Mengatur posisi yang nyaman untuk
tidur.
2) Anjurkan klien berkemih sebelum
tidur.
3) Tempat tidur yang bersih dan tidak
boleh basah.
4) Pada klien nyeri, berikan obat
analgesik 30 menit sebelum tidur.
g. Hindari kegiatan yang membangkitkan
minat sebelum tidur.
h. Berdoa sesuai dengan agamanya.
4.
Evalusi
a. Klien
menggunakan terapi relaksasi setiap makan malam sebelum pergi tidur dengan
meminta klien melaporkan keberhasilan tidur dan tetap tidur.
b. Klien
melaporkan perasaan nyaman setelah terbangun di pagi hari dengan meminta klien
melaporkan keberhasilan tidur dan tetap tidur.
c. Klien
melaporkan dapat menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan dalam 4 minggu dengan
mengobservasi ekspresi dan prilaku non-verbal pada saat klien terjaga.
d. Pola
tidur normal untuk masa anak adalah 11-12 jam /hari terpenuhi, masa sekolah 10
jam/hari terpenuhi, masa remaja 7-8 jam/hari terpenuhi.
5. Dokumentasi
Catat atau
dokumentasikan setiap tindakan yang dilakukan pada pasien dari awal sampai
akhir proses keperawatan sehingga dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan
dalam memberikan proses keperawatan yang berkesinambungan pada pasien. Dan juga
sebagai sumber atau pedoman dalam menangani pasien dengan gangguan istirahat
dan tidur. Sehingga dapat diperoleh hasil yang optimal dari tindakan
keperawatan demi kesembuhan pasien.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Istirahat dan tidur merupakan
kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh manusia dimana istirahat merupakan keadaan
tubuh yang rileks tanpa tekanan dan kecemasan (ansietas) sedangkan tidur
merupakan keadaan tidak sadar sebagai fungsi protektif tubuh untuk melakukan
perbaikan dan pemulihan jaringan setelah beraktivitas yang dapat dibangunkan
kembali.
2. Fisiologi tidur terdiri atas dua
tahapan, yaitu tahap NREM merupakan tidur yang dalam dan nyaman dan tahap REM yang
merupakan tidur dalam kondisi aktif atau tidur paradoksial yang bersifat
nyenyak sekali.
3. Kebutuhan istirahat tidur dan pola
tidur setiap individu berbeda – beda yang sangat dipengaruhi oleh umur individu
atau orang tersebut.
4. Fungsi tidur adalah untuk
memperbaiki, memulihkan dan menyeimbangkan kondisi tubuh baik secara
fisiologis, biologis ataupun psikologis sehingga kembali optimal.
5. Faktor – faktor yang mempengaruhi
istirahat dan tidur meliputi status kesehatan, lingkungan, stress psikologis,
diet/nutrisi, gaya hidup, obat – obatan, dan motivasi.
6. Gangguan istirahat dan tidur
meliputi insomnia, parasomnia, hipersomnia, narkolepsi, apnea saat tidur,
deprivasi tidur, enuresis, night terror, dan mendengkur.
7. Proses keperawatan pada pasien
dengan gangguan istirahat dan tidur meliputi:
a. Pengkajian
kebutuhan dan pola tidur pasien.
b. Diagnosa
keperawatan yang muncul dari proses pengkajian terkait gangguan istirahat dan
tidur.
c. Intervensi
keperawatan yang dapat diberikan kepada pasien dengan gangguan istirahat dan
tidur.
d. Evaluasi
tindakan keperawatan yang telah diberikan pada pasien, apakah dilanjutkan,
diubah atau diberhentikan.
e. Dokumentasikan
proses keperawatan yang telah dilaksanakan pada pasien sebagai acuan untuk
proses keperawatan selanjutnya.
B.
Saran
Kebutuhan istirahat dan tidur pada
individu atau pasien dengan gangguan istirahat dan tidur sangat diperlukan
untuk mempercepat proses penyembuhan. Oleh karena itu, perawat harus mempunyai
kompetensi yang baik terkait dengan kebutuhan istirahat dan tidur. Sehingga
proses pemulihan pasien dapat berjalan dengan optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Danu Saputra Raharja. http://danumanyut.blogspot.com/2012/04/konsep-kebutuhan-tidur-dan-istirahat.html.
Diposkan Selasa, 17 april 2012.
Eka Kharisma Putri. http://kharismaputrii.blogspot.com/2013/07/kebutuhan-dasaristirahat-dan-tidur.html.
Diposkan Sabtu,
13 juli 2013.
Faizal Surya Hakiki. http://kumpulanasuhankeperawatanlengkap.blogspot.com/2013/06/askep-istirahat-tidur.html.
Diposkan Rabu, 5 Juni 2013.
Ifptasya. http://ifptasya.wordpress.com/2011/01/11/pemenuhan-kebutuhan-istirahat-dan-tidur4ns/.
Diposkan 11 Januari 2011.
Ramadhan. http://forbetterhealth.wordpress.com/2008/12/22/konsep-dasar-istirahat-dan-tidur/.
Diposkan 22 Desember 2008.
Suparyanto. http://dr-suparyanto.blogspot.com/2011/10/konsep-dasar-istirahat-tidur.html.
Diposkan Sabtu, 01 Oktober 2011.
http://beequinn.wordpress.com/nursing/kebutuhan-dasar-manusia-i-kdm-i/kebutuhanistirahat-dan-tidur/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar