layzabye.blogspot.com

Selasa, 13 Januari 2015

makalah istirahat dan tidur




BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang. Untuk dapat berfungsi secara normal, maka setiap orang memerlukan istirahat dan tidur yang cukup. Pada kondisi istirahat dan tidur, tubuh melakukan proses pemulihan untuk mengembalikan stamina tubuh hingga berada dalam kondisi yang optimal.
Setiap individu mempunyai kebutuhan istirahat dan tidur yang berbeda. Pola istirahat dan tidur yang baik dan teratur memberikan efek yang bagus terhadap kesehatan. Namun dalam keadaan sakit, pola tidur seseorang biasnya terganggu, sehingga perawat perlu berupaya untuk membantu pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur klien. Kebutuhan istirahat dan tidur pada individu yang sakit sangat diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan. Oleh karena itu, perawat harus mempunyai kompetensi yang baik terkait dengan kebutuhan istirahat dan tidur.

B.     Rumusan Masalah
Adapun karya tulis yang berjudul “Istirahat dan Tidur” adalah untuk mendeskripsikan tentang:
1.      Apa yang dimaksud dengan istirahat dan tidur?
2.      Bagaimana fisiologi tidur?
3.      Bagaimana kebutuhan dan pola istirahat tidur?
4.      Apa saja fungsi tidur?
5.      Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi istirahat dan tidur?
6.      Apa saja gangguan-gangguan istirahat dan tidur?
7.      Bagaimana proses keperawatan pada pasien dengan gangguan istirahat dan tidur?
C.    Tujuan Penulisan
Adapun karya tulis yang berjudul “Istirahat dan Tidur” adalah untuk menjelaskan tentang:
1.      Pengertian istirahat dan tidur.
2.      Fisiologi tidur.
3.      Kebutuhan dan pola istirahat tidur
4.      Fungsi tidur.
5.      Faktor-faktor yang mempengaruhi istirahat dan tidur.
6.      Gangguan – gangguan istirahat dan tidur.
7.      Proses keperawatan pada pasien dengan gangguan istirahat dan tidur.













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Istirahat dan Tidur
1.      Istirahat merupakan keadaan relaks tanpa adanya tekanan emosional, bukan hanya dalam keadaan tidak beraktivitas tetapi juga kondisi yang membutuhkan ketenangan. Kata istirahat berarti berhenti sebentar untuk melepaskan lelah, bersantai untuk menyegarkan diri atau melepaskan diri dari segala hal yang membosankan, menyulitkan bahkan menjengkelkan (Hidayat, 2008).
2.      Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar dimana persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun atau hilang, dan dapat dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup. Tidur ditandai dengan aktivitas fisik minimal, tingkat kesadaran yang bervariasi, terjadi perubahan proses fisiologis tubuh serta penurunan respon terhadap rangsangan dari luar (Asmadi, 2008).

B.     Fisiologi Tidur
Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur oleh adanya hubungan mekanisme serebral yang secara bergantian mengaktifkan dan menekan pusat otak agar dapat tidur dan bangun. Salah satu aktivitas tidur ini diatur oleh sistem pengaktivasi retikularis yang merupakan sistem yang mengatur seluruh tingkatan kegiatan susunan saraf pusat termasuk pengaturan kewaspadaan dan tidur (Hidayat, 2008).
Pusat pengaturan aktivitas kewaspadaan dan tidur terletak dalam mesensefalon dan bagian atas pons. Reticular Activating System (RAS) berlokasi pada batang otak teratas. RAS dipercayai terdiri dari sel khusus yang mempertahankan kewaspadaan dan tidur. Selain itu, RAS dapat memberikan rangsangan visual, pendengaran, nyeri, dan perabaan juga dapat menerima stimulasi dari korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan proses pikir. Dalam keadaan sadar, neuron dalam RAS akan melepaskan katekolamin seperti norepineprin. Demikian juga pada saat tidur, kemungkinan disebabkan adanya pelepasan serum serotonin dari sel khusus yang berada di pons dan batang otak tengah, yaitu Bulbar Synchronizing Regional (BSR), sedangkan bangun tergantung dari keseimbangan impuls yang diterima di pusat otak dan sistem limbic. Dengan demikian, sistem pada batang otak yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR (Hidayat, 2008).
Ketika orang mencoba tertidur, mereka akan menutup mata dan berada dalam posisi relaks. Stimulus ke RAS menurun. Jika ruangan gelap dan tenang, maka aktivasi RAS selanjutnya menurun. Pada beberapa bagian BSR mengambil alih yang menyebabkan tidur (Potter&Perry, 2006). Menurut hasil penelitian ada 2 tahap/pola tidur, yaitu:
1.      Pola Tidur Biasa atau NREM
Pola / tipe tidur biasa ini juga disebut NREM (Non Rapid Eye Movement = Gerakan mata tidak cepat). Pola tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam tidur gelombang pendek karena gelombang otak selama NREM lebih lambat daripada gelombang alpha dan beta pada orang yang sadar atau tidak dalam keadaan tidur (lihat gambar). Tanda-tanda tidur NREM adalah:
a.     Mimpi berkurang
b.     Keadaan istirahat (otot mulai berelaksasi)
c.     Tekanan darah turun
d.    Kecepatan pernafasan turun
e.     Metabolisme turun
f.      Gerakan mata lambat
Fase NREM atau tidur biasa ini berlangsung ± 1 jam dan pada fase ini biasanya orang masih bisa mendengarkan suara di sekitarnya, sehingga dengan demikian akan mudah terbangun dari tidurnya. Tidur NREM ini mempunyai 4 (empat) tahap yang masing-masing tahap di tandai dengan pola gelombang otak.
a.       Tahap 1
Tahap ini merupakan tahap transisi, berlangsung selama 5 menit yang mana seseorang beralih dari sadar menjadi tidur. Seseorang merasa kabur dan relaks, mata bergerak ke kanan dan ke kiri, kecepatan jantung dan pernafasan turun secara jelas. Gelombang alpha sewaktu seseorang masih sadar diganti dengan gelombang betha yang lebih lambat. Seseorang yang tidur pada tahap I dapat di bangunkan dengan mudah. Ketika bangun seseorang merasa seperti telah melamun.
b.      Tahap 2
Tahap ini merupakan tahap tidur ringan, dan proses tubuh terus menurun. Mata masih bergerak-gerak, kecepatan jantung dan pernafasan turun dengan jelas, suhu tubuh dan metabolisme menurun. Gelombang otak ditandai dengan “sleep spindles” dan gelombang K komplek. Tahap II berlangsung pendek dan berakhir dalam waktu 10 sampai dengan 15 menit. Pada tahap ini merupakan periodetidur bersuara, kemajuan relaksasi, untuk bangun relatif mudah.
c.       Tahap 3
Pada tahap ini meliputi awal dari tidur dalam. Otot –otot dalam keadaan santai penuh, kecepatan jantung, pernafasan serta proses tubuh berlanjut mengalami penurunan akibat dominasi sistem syaraf parasimpatik. Seseorang menjadi lebih sulit dibangunkan dan jarang bergerak. Gelombang otak menjadi lebih teratur dan terdapat penambahan gelombang delta yang lambat. Tahap ini berlangsung 15-30 menit.
d.      Tahap 4
Tahap ini merupakan tahap tidur dalam yang ditandai dengan predominasi gelombang delta yang melambat. Kecepatan jantung dan pernafasan turun. Seseorang dalam keadaan rileks, jarang bergerak dan sulit dibangunkan. (mengenai gambar grafik gelombang dapat dilihat dalam gambar). Siklus tidur sebagian besar merupakan tidur NREM dan berakhir dengan tidur REM. Tahap ini berlangsung 15-30 menit.
2.      Pola Tidur Paradoksikal atau REM
Pola / tipe tidur paradoksikal ini disebut juga (Rapid Eye Movement = Gerakan mata cepat). Tidur tipe ini disebut “Paradoksikal” karena hal ini bersifat “Paradoks”, yaitu seseorang dapat tetap tertidur walaupun aktivitas otaknya nyata. Tidur REM / Paradoks merupakan pola/tipe tidur dimana otak benar-benar dalam keadaan aktif. Namun, aktivitas otak tidak disalurkan ke arah yang sesuai agar orang itu tanggap penuh terhadap keadaan sekelilingnya kemudian terbangun. Pola/tipe tidur ini, ditandai dengan perbedaan antara mimpi-mimpi yang timbul sewaktu tahap tidur NREM dan tahap tidur REM adalah bahwa mimpi yang timbul pada tahap tidur REM dapat diingat kembali, sedangkan mimpi selama tahap tidur NREM biasanya tak dapat diingat. Jadi selama tidur NREM tidak terjadi konsolidasi mimpi dalam ingatan.
a.       Mengigau atau bahkan mendengkur
b.      Otot-otot kendor (relaksasi total)
c.       Kecepatan jantung dan pernafasan tidak teratur, sering lebih cepat
d.      Perubahan tekanan darah
e.       Gerakan otot tidak teratur
f.       Gerakan mata cepat
g.      Pembebasan steroid
h.      Sekresi lambung meningkat
i.        Ereksi penis pada pria
Syaraf-syaraf simpatik bekerja selama tidur REM. Dalam tidur REM diperkirakan terjadi proses penyimpanan secara mental yang digunakan sebagai pelajaran, adaptasi psikologis dan memori (Hayter, 1980:458). Fase tidur REM (fase tidur nyenyak) ini berlangsung selama ± 20 menit. Dalam tidur malam yang berlangsung selama 6 – 8 jam, kedua pola tidur tersebut (REM dan NREM) terjadi secara bergantian sebanyak 4 – 6 siklus.
Gambar Tahap Tidur
Gambar Siklus Tidur



C.    Kebutuhan dan Pola Istirahat Tidur
Tingkat Perkembangan/ Usia
Pola Tidur Normal
Bayi baru lahir
(0 – 1 bulan)
Tidur 14-18 jam sehari, pernafasan teratur, gerak tubuh sedikit, 50% tidur NREM, banyak waktu tidurnya dilewatkan pada tahap III dan IV tidur NREM. Setiap siklus sekitar 45-60 menit.
Bayi
(1 – 18 bulan)
Tidur 12-14 jam sehari, 20-30% tidur REM, tidur lebih lama pada malam hari dan punya pola terbangun sebentar
Toddler
(18 bulan – 3 tahun)
Tidur sekitar 10-12 jam sehari, 25% tidur REM, banyak tidur pada malam hari, terbangun dini hari berkurang, siklus bangun tidur normal sudah menetap pada umur 2-3 tahun
Pra Sekolah
(3 – 6 tahun)
Tidur sekitar 11 jam sehari, 20% tidur REM, periode terbangun kedua hilang pada umur 3 tahun. Pada umur 5 tahun, tidur siang tidak ada kecuali kebiasaan tidur sore hari.
Usia Sekolah
(6 – 12 tahun)
Tidur sekitar 10 jam sehari, 18,5% tidur REM. Sisa waktu tidur relatif konstan.
Remaja
(12 – 18 tahun)
Tidur sekitar 8,5 jam sehari, dan 20% tidur tahap III-IV.
Dewasa Muda
(18 – 40 tahun)
Tidur sekitar 7-9 jam sehari, 20-25% tidur REM, 5-10% tidur tahap I, 59% tidur tahap II, dan 10-20% tidur tahap III-IV.
Dewasa Pertengahan
(40 – 60 tahun)
Tidur sekitar 7 jam sehari, 20% tidur REM, mungkin mengalami insomnia dan sulit untuk dapat tidur.
Dewasa Tua
(> 60 tahun)
Tidur sekitar 6 jam sehari, 20-25% tidur REM, tidur tahap IV nyata berkurang kadang-kadang tidak ada. Mungkin mengalami insomnia dan sering terbangun sewaktu tidur malam hari.

D.    Fungsi Tidur
1.      Memperbaiki keadaan fisiologis dan psikologis.
2.      Melepaskan stress dan ketegangan.
3.      Memulihkan keseimbangan alami di antara pusat-pusat neuron.
4.      Secara tradisional, dipandang sebagai waktu untuk memperbaiki dan menyiapkan diri pada waktu periode bangun.
5.      Memperbaiki proses biologis dan memelihara fungsi jantung.
6.      Berperan dalam belajar, memori dan adaptasi.
7.      Mengembalikan konsentrasi dan aktivitas sehari-hari.
8.      Menghasilkn hormon pertumbuhan utk memperbaiki serta memperbaharui epitel dan sel otak.
9.      Menghemat dan menyediakan energi bagi tubuh.
10.  Memelihara kesehatan optimal dan mengembalikan kondisi fisik.

E.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Istirahat dan Tidur
Pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur setiap orang berbeda – beda. Ada yang kebutuhannya terpenuhi dengan baik, ada pula yang mengalami gangguan. Seseorang bisa tidur atau tidak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya sebagai berikut:
1.      Status Kesehatan
Seseorang yang kondisi tubuhnya sehat memungkinkan ia dapat tidur dengan nyenyak. Tetapi pada orang yang sakit dan rasa nyeri, maka kebutuhan istirahat dan tidurnya tidak dapat dipenuhi dengan baik sehingga ia tidak dapat tidur dengan nyenyak. Misalnya pada klien yang menderita gangguan pada sistem pernapasan. Dalam kondisinya yang sesak napas, maka seseorang tidak mungkin dapat istirahat dan tidur (Asmadi, 2008).
2.      Lingkungan
Lingkungan dapat meningkatkan atau menghalangi seseorang untuk tidur. Pada lingkungan yang tenang memungkinkan seseorang dapat tidur dengan nyenyak. Sebaliknya lingkungan yang ribut, bising, dan gaduh akan menghambat seseorang untuk tidur. Keadaan lingkungan yang tenang dan nyaman bagi seseorang dapat mempercepat terjadinya proses tidur (Hidayat, 2008).
3.      Stress Psikologis
Cemas dan depresi akan menyebabkan gangguan pada frekuensi tidur. Hal ini disebabkan karena pada kondisi cemas akan meningkatkan norepinefrin darah melalui sistem saraf simpatis. Zat ini akan mengurangi tahap IV NREM dan REM (Asmadi, 2008).
4.      Diet / Nutrisi
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat proses tidur. Protein yang tinggi seperti pada keju, susu, daging, dan ikan tuna dapat mempercepat proses tidur, karena adanya triptofan yang merupakan asam amino dari protein yang dicerna (Hidayat, 2008). Sebaliknya minuman yang mengandung kafein maupun alkohol akan mengganggu tidur (Asmadi, 2008).
5.      Gaya Hidup
Kelelahan dapat mempengaruhi pola tidur seseorang. Kelelahan tingkat menengah orang dapat tidur dengan nyenyak. Sedangkan pada kelelahan yang berlebihan akan menyebabkan periode tidur REM lebih pendek (Asmadi, 2008).
6.      Obat – Obatan
Obat dapat juga mempengaruhi proses tidur. Beberapa jenis obat yang dapat mempengaruhi proses tidur adalah jenis golongan obat diuretic menyebabkan seseorang insomnia, anti depresan dapat menekan REM, kafein dapat meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan kesulitan untuk tidur, golongan beta bloker dapat berefek pada timbulnya insomnia, dan golongan narkotik dapat menekan REM sehingga mudah mengantuk (Hidayat, 2008).
7.      Motivasi
Motivasi merupakan suatu dorongan atau keinginan seseorang untuk tidur, yang dapat mempengaruhi proses tidur. Selain itu adanya keinginan untuk menahan tidak tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur (Hidayat, 2008).




F.     Gangguan Istirahat dan Tidur
1.      Insomnia
Insomnia adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan tidur, baik
secara kualitas maupun kuantitas. Gangguan tidur ini umumnya ditemui pada individu dewasa. Penyebabnya bisa karena gangguan fisik atau karena faktor mental seperti perasaan gundah atau gelisah. Ada tiga jenis insomnia:
1)      Insomniainisial : Kesulitan untuk memulai tidur.
2)      Insomnia intermiten : Kesulitan untuk tetap tertidur karena seringnya terjaga.
3)      Insomnia terminal : Bangun terlalu dini dan sulit untuk tidur kembali.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi insomniaanatara lain misalnya: membaca, mendengarkan musik, dan tidur jika benar-benar mengantuk.
2.      Parasomnia
Parasomnia adalah perilaku yang dapat mengganggu tidur atau muncul saat seseorang tidur. Gangguan ini umum terjadi pada anak-anak. Beberapa turunan parasomnia antara lain sering terjaga (misalnya: tidur berjalan, night terror), gangguan transisi bangun-tidur (misalnya: mengigau), parasomnia yang terkait dengan tidur REM (misalnya: mimpi buruk), dan lainnya (misalnya: bruksisme).
3.      Hipersomnia
Hipersomnia adalah kebalikan dari insomnia, yaitu tidur yang berkelebihan terutama pada siang hari. Gangguan ini dapat disebabkan oleh kondisi tertentu, seperti kerusakan system saraf, gangguan pada hati atau ginjal, atau karena gangguan metabolisme (misalnya: hipertiroidisme). Pada kondisi tertentu, hipersomnia dapat digunakan sebagai mekanisme koping untuk menghindari tanggung jawab pada siang hari.

4.      Narkolepsi
Narkolepsi adalah gelombang kantuk yang tak tertahankan yang muncul secara tiba-tiba pada siang hari. Gangguan ini disebut juga sebagai “serangan tidur” atau sleep attack. Penyebab pastinya belum diketahui. Diduga karena kerusakan genetik system saraf pusat yang menyebabkan tidak terkendalinya periode tidur REM. Alternatif pencegahannya adalah dengan obat-obatan, seperti: amfetamin atau metilpenidase, hidroklorida, atau dengan antidepresan seperti imipramin hidroklorida.
5.      Apnea saat tidur
Apnea saat tidur atau sleep abnea adalah kondisi terhentinya napas secara periodik pada saat tidur. Kondisi ini diduga terjadi pada orang yang mengorok dengan keras, sering terjaga di malam hari, insomnia, mengatup berlebihan pada siang hari, sakit kepala di siang hari, iritabilitas, atau mengalami perubahan psikologis seperti hipertensi atau aritmia jantung.
6.      Deprivasi tidur
Deprivasi tidur adalah masalah yang dihadapi banyak klien akibat disomnia. Penyebab dapat mencakup penyakit (misal: demam, sulit bernafas atau nyeri), stress emosional, obat – obatan, gangguan lingkungan (misal asuhan keperawtan yang dilakukan) dan keanekaragaman waktu tidur yang terkait dengan waktu kerja. Dokter dan perawat cenderung mengalai deprivasi tidur karena jadwal kerja yang panjang dan rotasi jam dinas.
Deprivasi tidur menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas tidur serta ketidak konsistenan waktu tidur. Respon orang terhadap deprivasi sangat bervariasi, gejala fisiologis : ptosis, penglihatan kabur, kekakuan motorik halus, penurunan reflek, waktu respon melambat, penilaian menurun, aritmia jantung. Gejala psikologisnya: bingung, peningkatan sensifitas nyeri, menarik diri, apatis, rasa kantuk berlebihan, agitasi, hiperaktif, penurunan motivasi.
7.      Enuresis
Enuresis adalah kencing/BAK yang tidak disengaja (mengompol). Terjadi pada anak-anak dan remaja, paling banyak terjadi pada laki-laki. Penyebab secara pasti belum jelas, tetapi ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan enuresis seperti gangguan pada bladder, stres, dan toilet training yang kaku. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah enuresis anatara lain: hindari stres, hindari minum yang banyak sebelum tidur, dan kosongkan kandung kemih (berkemih dulu) sebelum tidur.
8.      Night terror
Night terror adalah mimpi buruk. Umumnya terjadi pada anak usia 6 tahun atau lebih. Setelah tidur beberapa jam, anak tersebut langsung terjaga dan berteriak, pucat dan ketakutan.
9.      Mendengkur
Mendengkur disebabkan oleh rintangan terhadap aliran udara di hidung dan mulut. Amandel yang membengkak dan adenoid dapat menjadi faktor yang turut menyebabkan mendengkur. Pangkal lidah yang menyumbat saluran napas pada lansia. Otot-otot di bagian belakang mulut mengendur lalu bergetar jika dilewati udara pernapasan.

G.    Proses Keperawatan pada  Pasien dengan Gangguan Istirahat dan Tidur
1.      Pengkajian Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Aspek yang perlu dikaji pada klien untuk mengidentifikasi gangguan kebutuhan istirahat dan tidur meliputi pengkajian mengenai:
a.       Pola tidur, seperti jam berapa klien masuk kamar untuk tidur, jam berapa biasa bangun tidur, dan keteraturan pola tidur klien.
b.      Kebiasaan yang dilakukan klien menjelang tidur, seperti membaca buku, buang air kecil, dan lain-lain.
c.       Gangguan tidur yang sering dialami klien dan cara mengatasinya.
d.      Kebiasaan tidur siang.
e.       Lingkungan tidur klien. Bagaimana kondisi lingkungan tidur klien?, apakah kondisinya bising, gelap, atau suhu dingin?
f.       Peristiwa yang baru dialami klien dalam hidup. Perawat mempelajari apakah peristiwa yang dialami klien, yang menyebabkan klien mengalami gangguan tidur?
g.      Status emosi dan mental klien. Status emosional dan mental memengaruhi terhadap kemampuan klien untuk istirahat dan tidur. Perawat perlu mengkaji mengenai status emosional dan mental klien, misalnya apakah klien mengalami stress emosional atau ansietas? Juga dikaji sumber stres yang dialami klien.
h.      Perilaku deprivasi tidur yaitu manifestasi fisik dan perilaku yang timbul sebagai akibat gangguan istirahat tidur, seperti:
1)      Penampilan wajah, misalnya adalah adakah area gelap di sekitar mata, bengkak di kelopak mata, konjungtiva kemerahan, atau mata yang terlihat cekung.
2)      Perilaku yang terkait dengan gangguan istirahat tidur, misalnya apakah klien mudah tersinggung, selalu menguap, kurang konsentrasi, atau terlihat bingung.
3)      Kelelahan, misalnya apakah klien tampak lelah, letih, atau lesu.
2.      Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang mungkin ditemukan pada klien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur, antara lain:
a.     Gangguan pola tidur
Gangguan pola tidur inin dapat disebabkan karena ansietas yang dialami klien, lingkungan yang tidak kondusif untuk tidur (misalnya, lingkungan yang bising), ketidakmampuan mengatasi stres yang dialami, dan nyeri akibat penyakit yang diderita klien.
1)      Gangguan pola tidur : kurang dari kebutuhan b/d kecemasan akan operasi.
2)      Gangguan pola tidur: lebih dari kebutuhan b/d penggunaan obat-obat sedativa.
3)      Gangguan pola tidur: kurang dari kebutuhan tubuh b/d nyeri perut yang terus menerus.
b.     Perubahan proses pikir
Perubahan proses berpikir ini disebabkan oleh terjadinya deprivasi tidur.
c.     Gangguan harga diri
Gangguan harga diri terutama dialami pada klien yang mengalami enuresis.
d.    Risiko cedera
Risiko cedera terutama pada klien yang menderita somnambulisme. Pada somnambulisme ini, klien melakukan aktivitas tanpa disadari sehingga berisiko terjadinya kecelakaan, bisa berupa jatuh dari tempat tidur, turun tangga, atau membentur tembok, dan lain-lain.
3.      Intervensi Pemenuhan Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Pada klien yang dirawat di rumah sakit dapat mengalami masalah istirahat dan tidur. Masalah tersebut sering berhubungan dengan lingkungan rumah sakit, rutinitas ruangan, atau penyakit yang dideritanya. Walaupun begitu, perawat mesti membantu klien untuk dapat istirahat dan tidur.
Berikut ini merupakan beberapa intervensi yang dapat diterapkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur pada klien yang dirawat.
a.       Ciptakan lingkungan yang nyaman, dapat dilakukan misalnya dengan:
1)      Pintu kamar klien ditutup.
2)      Kurangi stimulus, misalnya percakapan.
3)      Tempatkan klien dengan teman yang cocok, dan lain-lain.
b.      Membantu kebiasaan klien sebelum tidur, misalnya dengan mendengarkan musik, membaca, dan berdoa. Pada klien anak-anak, dapat dilakukan dengan membacakan dongeng, memegang boneka atau benda yang disukainya.
c.       Diet
1)      Anjurkan klien untuk memakan makanan yang mengandung tinggi protein, seperti susu dan keju.
2)      Hindari banyak minum sebelum tidur.
d.      Hindari latihan fisik yang berlebihan sebelum tidur.
e.       Hindari rangsangan mental yang tidak menyenangkan sebelum tidur. Maksudnya, usahakan psikologi klien tenang, tidak cemas, ataupun stres sebelum tidur.
f.       Berikan rasa nyaman dan rileks, misalnya dengan:
1)      Mengatur posisi yang nyaman untuk tidur.
2)      Anjurkan klien berkemih sebelum tidur.
3)      Tempat tidur yang bersih dan tidak boleh basah.
4)      Pada klien nyeri, berikan obat analgesik 30 menit sebelum tidur.
g.      Hindari kegiatan yang membangkitkan minat sebelum tidur.
h.      Berdoa sesuai dengan agamanya.
4.      Evalusi
a.     Klien menggunakan terapi relaksasi setiap makan malam sebelum pergi tidur dengan meminta klien melaporkan keberhasilan tidur dan tetap tidur.
b.     Klien melaporkan perasaan nyaman setelah terbangun di pagi hari dengan meminta klien melaporkan keberhasilan tidur dan tetap tidur.
c.     Klien melaporkan dapat menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan dalam 4 minggu dengan mengobservasi ekspresi dan prilaku non-verbal pada saat klien terjaga.
d.    Pola tidur normal untuk masa anak adalah 11-12 jam /hari terpenuhi, masa sekolah 10 jam/hari terpenuhi, masa remaja 7-8 jam/hari terpenuhi.
5.      Dokumentasi
Catat atau dokumentasikan setiap tindakan yang dilakukan pada pasien dari awal sampai akhir proses keperawatan sehingga dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam memberikan proses keperawatan yang berkesinambungan pada pasien. Dan juga sebagai sumber atau pedoman dalam menangani pasien dengan gangguan istirahat dan tidur. Sehingga dapat diperoleh hasil yang optimal dari tindakan keperawatan demi kesembuhan pasien.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh manusia dimana istirahat merupakan keadaan tubuh yang rileks tanpa tekanan dan kecemasan (ansietas) sedangkan tidur merupakan keadaan tidak sadar sebagai fungsi protektif tubuh untuk melakukan perbaikan dan pemulihan jaringan setelah beraktivitas yang dapat dibangunkan kembali.
2.      Fisiologi tidur terdiri atas dua tahapan, yaitu tahap NREM merupakan tidur yang dalam dan nyaman dan tahap REM yang merupakan tidur dalam kondisi aktif atau tidur paradoksial yang bersifat nyenyak sekali.
3.      Kebutuhan istirahat tidur dan pola tidur setiap individu berbeda – beda yang sangat dipengaruhi oleh umur individu atau orang tersebut.
4.      Fungsi tidur adalah untuk memperbaiki, memulihkan dan menyeimbangkan kondisi tubuh baik secara fisiologis, biologis ataupun psikologis sehingga kembali optimal.
5.      Faktor – faktor yang mempengaruhi istirahat dan tidur meliputi status kesehatan, lingkungan, stress psikologis, diet/nutrisi, gaya hidup, obat – obatan, dan motivasi.
6.      Gangguan istirahat dan tidur meliputi insomnia, parasomnia, hipersomnia, narkolepsi, apnea saat tidur, deprivasi tidur, enuresis, night terror, dan mendengkur.
7.      Proses keperawatan pada pasien dengan gangguan istirahat dan tidur meliputi:
a.    Pengkajian kebutuhan dan pola tidur pasien.
b.    Diagnosa keperawatan yang muncul dari proses pengkajian terkait gangguan istirahat dan tidur.
c.    Intervensi keperawatan yang dapat diberikan kepada pasien dengan gangguan istirahat dan tidur.
d.   Evaluasi tindakan keperawatan yang telah diberikan pada pasien, apakah dilanjutkan, diubah atau diberhentikan.
e.    Dokumentasikan proses keperawatan yang telah dilaksanakan pada pasien sebagai acuan untuk proses keperawatan selanjutnya.

B.     Saran
Kebutuhan istirahat dan tidur pada individu atau pasien dengan gangguan istirahat dan tidur sangat diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan. Oleh karena itu, perawat harus mempunyai kompetensi yang baik terkait dengan kebutuhan istirahat dan tidur. Sehingga proses pemulihan pasien dapat berjalan dengan optimal.


















DAFTAR PUSTAKA

Danu Saputra Raharja. http://danumanyut.blogspot.com/2012/04/konsep-kebutuhan-tidur-dan-istirahat.html. Diposkan Selasa, 17 april 2012.
http://beequinn.wordpress.com/nursing/kebutuhan-dasar-manusia-i-kdm-i/kebutuhanistirahat-dan-tidur/



Tidak ada komentar:

Posting Komentar